Yuk, berbisnis dg 0 Rupiah!
silakan klik link berikut:


Thursday, August 3, 2017

Jawaban Pertanyaan Terkait Kongruensi dan Ketegaklurusan Berkas Radiasi Sinar-X

Roxsi (roxsibengngu@gmail.com) : Yth, pak mohon informasi lebih lanjut tentang ketegaklurusan berkas radiasi. Mengapa batas toleransi tdk boleh lebih 2%? Seandainya ketegaklurusan melebihi batas toleransi, dampak apa yg akan terjadi?

Jawab:

Terima kasih Roxsi atas pertanyaannya.
Pengujian pesawat sinar-X radiologi diagnostik memiliki komponen uji yang salah satunya adalah kongruensi (x-ray field Congruence) dan ketegaklurusan (Beam Perpendicularity).
Pengujian keduanya tidak dapat dipisahkan. Karena keduanya memiliki keterkaitan erat yaitu dengan citra yang dihasilkan. Keduanya berpotensi memunculkan pergeseran citra, pergeseran fokus anoda, dan mengakibatkan citra teristorsi, berbayang, kurang tajam, mengurangi kualitas citra sehingga memerlukan pengulangan penyinaran.

Selain itu, jika berkas cahaya kolimasi dan berkas sinar-X tidak kongruen maka akan berpotensi menambah paparan radiasi yang tidak diperlukan bagi pasien dan memapari daerah tubuh pasien yang tidak menjadi target penyinaran.

Begitu pula jika berkas sinar-X tidak tegaklurus pada bidang citra, maka akan berpotensi memberikan citra yang kabur pada saat dibutuhkan berkas sinar-X yang lurus pada posisi posisi penting seperti untuk memeriksa sambungan atau batas organ. Opsi pengulangan sering kali diambil dengan mengubah posisi penyinaran (proyeksi sudut). Akibatnya pasien menerima paparan radiasi yang tidak perlu.

Kongruensi memastikan bahwa berkas sinar-X dan lampu kolimasi memiliki kesesuaian yang baik atau kongruen sesuai toleransi yang diperkenankan.
Ketegaklurusan memastikan bahwa berkas sinar-X jatuh tegak lurus dengan bidang citra sesuai dengan toleransi yang diperkenankan.

Pengambilan keputusan bahwa suatu pengujian itu diterima atau tidak, layak atau tidak, lolos atau tidak adalah harus memiliki suatu nilai batas atau toleransi. Suatu pengujian dinyatakan tidak kongruen misalnya, itu berarti melewati nilai batas toleransi. Begitu pula sebaliknya jika disebut dengan kongruen sesuai toleransi yang diperkenankan artinya masih di bawah batas toleransi.

Suatu nilai batas atau toleransi ditetapkan dengan didasarkan pada kesepakatan / konsensus bersama dengan mempertimbangkan kemampuan dan ketersediaan sumber daya. Artinya suatu toleransi yang ketat akan membutuhkan sumber daya yang lebih besar dan kuat dibandingkan dengan memilih toleransi yang longgar. Yang dimaksud sumber daya ini adalah peralatan yang tersedia (pesawat sinar-X dan alat ukur untuk pengujian), sumber daya manusia yang melakukan pengujian dan interpretasi hasilnya, prosedur pengujian yang sesuai, dan kemampuan finansial yang memadai dalam menyediakan segala sesuatu yang dibutuhkan untuk pembelian, pemeliharaan, perbaikan dan penggantian alat.

Berdasarkan hal tersebut diatas, maka suatu nilai toleransi biasanya diputuskan. Pakah menggunakan toleransi yang ketat atau yang sedikit longgar atau bahkan longgar. Dengan tujuan pemiliha n toleransi yang berbeda.

Misal dipilih toleransi yang longgar, berfungsi untuk melakukan skrining awal kemampuan kinerja pesawat sinar-X di lapangan. Dan ini biasanya merupakan suatu regulasi yang baru diterapkan. Sehingga gambaran awal kondisi pesawat sinar-X diketahui, setelah berjalannya waktu maka diubah regulasinya dibuat agak ketat, begitu seterusnya sehingga menjadi regulasi yang memberlakukan toleramsi yang ketat seiring tuntutan hasil diagnostik yang tepat dengan sinar-X juga meningkat.

Hat tersebut juga berlaku untuk toleransi kongruensi dan ketegaklurusan berkas.
Penyimpangan yang masih diperbolehkan sesuai dengan referensi adalah:
  1. Ketegaklurusan berkas radiasi dengan bidang citra maksimal 3 derajat dan ada juga yang menetapkan toleransi 1 derajat atau 1,5 derajat.
  2. Penyimpangan bidang cahaya kolimator dengan berkas sinar-X secara keseluruhan tidak boleh melebihi 2% jarak fokus ke bidang citra (SID, Source Image Distance) dan ada juga yang menetapkan 4% dari SID.


Merujuk pada pertanyaan yang telah disampaikan adalah apakah batas toleransi tidak boleh lebih dari 2% untuk kongruensi? Bukan untuk ketegaklurusan berkas ya, tetapi untuk kongruensi. Kalau untuk kelurusan berkas dihitung persen ada referensi yang menyatakan tidak boleh lebih dari 5%.

Batas 2% yang dimaksud apakah 2% untuk keseluruhan bidang atau per sisi. Jika merujuk ke regulasi Perka BAPETEN No. 9 Tahun 2011, maka yang dimaksud 2% ini adalah per sisi (delta x dan delta y maksimum 2%). Sehingga total harus maksimum 4% tetapi di regulasi nasional dikecilkan menjadi 3%.

Regulasi nasional kita sudah merujuk ke aturan yang longgar dibanding menetapkan 2% total maksimum simpangan untuk semua sisi (sehingga untuk masing-masing sisi hanya boleh menyimpang 0,5%).

Sebelumnya telah disampaikan bahwa penyimpangan yang melebihi toleransi (untuk keduanya) berpotensi memunculkan pergeseran citra, pergeseran fokus anoda, dan mengakibatkan citra terdistorsi, berbayang, kurang tajam, mengurangi kualitas citra sehingga memerlukan pengulangan penyinaran.

Sebagai ilustrasi, penyinaran thoraks PA pada jarak 200 cm, jika hasil uji kongruensi menunjukkan simpangan kolimasi 2% pada satu sisi, maka pada jarak 200 cm akan terpotong atau bergeser citra sebesar 4 cm sehingga kemungkinan ada informasi citra yang hilang akan terjadi. Begitu pula jika berkas tidak jatuh tegak lurus ke bidang citra karena simpangannya lebih dari 3 derajat. Pada citra akan tampak bagian yang berbayang atau kurang jelas, dan mengalami magnifikasi, padahal pada pemeriksaan diharapkan diperoleh citra yang jelas. Ilustrasi dapat dilihat pada Gambar 1.

Untuk lebih memastikan efek dari pertanyaan tersebut, maka sebaiknya dilakukan penelitian dilapangan khususnya yang diadakan di dalam negeri:
  • Pengaruh perubahan luas lapangan dengan dosis radiasi pada pasien.
  • Pengaruh bidang citra dan lampu kolimasi yang tidak kongruen dengan citra yang dihasilkan.
  • Pengaruh arah berkas yang tidak lurus dengan obyek dan bidang citra terhadap citra yang dihasilkan.


Sebelum itu dilakukan, harus diyakini dulu (hipotesa) sesuai dengan reerensi yang ada bahwa simpangan yang lebih besar dari yang ditetapkan untuk nilai toleransi sudah memberikan pengaruh yang signifikan terhadap citra yang dihasilkan.

Hasil penelitian dari dalam negeri dapat memberi dukungan pada regulasi yang menyatakan bahwa pesawat sinar-X harus diuji untuk kongruensi dan ketegaklurusan pada saat pemasangan (instalasi), dan secara rutin setiap tahun. Penyimpangan yang melebihi toleransi pada pengujian tersebut akan memberikan potensi tambahan dosis pasien, adanya distorsi pada citra, citra terpotong, dan citra yang berulang (kabur berbayang).

Penyimpangan pada kongruensi dan ketegaklurusan dapat disebabkan adanya bawaan disain pengaturan cermin pemantul dan penerus berkas yang sudah ada penyimpangan, bawaan disain posisi dan arah fokus. Selain itu ditambah dengan saat penggunaan sinar-X, perlakuan pada tabung kasar (dalam menggerakkan tabung untuk penyesuaian proyeksi), benturan tabung jika terjadi, sehingga cermin pemantul bergeser dan kolimator juga bergeser.

Demikian penjelasan singkat ini semoga bermanfaat dan memberi tantangan bagi kita untuk melakukan riset dan kajian di tempat bekerja.

Pustaka
  • http://qcinradiography.weebly.com/light-field-congruency-test
  • http://qualitycontrolmedradsc3h03.weebly.com/congruence-and-beam-perpendicularity
  • https://www.fda.gov/Radiation-EmittingProducts/RadiationEmittingProductsandProcedures/MedicalImaging/MedicalX-Rays/ucm115361.htm#III
  • PAPP, Quality Management in the Imaging Sciences, Third Edition, MOSBY, 2006
  • New South Walles Environment Protection Authority, “Registration Requirements & Industry Best Practice For Ionising Radiation Apparatus Used in Diagnostic Imaging”, Test Protocols For Part 2 – 5 of Radiation Guideline 6, Department of Environment and Conservation, Sydney South, 2004.
  • AMERICAN ASSOCIATION OF PHYSICISTS IN MEDICINE, “Basic Quality Control In Diagnostic Radiology”, AAPM Report No. 4, New York, 1977.
  • RADIATION SAFETY ACT 1975, “Workbook 3 : Major Radiographic Equipment”, Diagnostic X-Ray Equipment Compliance Testing, Health Department of Western Australia, Australia, 2000.
  • INTERNATIONAL ATOMIC ENERGY AGENCY (IAEA), Training Material on Radiation Protection in Diagnostic and Interventional Radiology, IAEA Training Material on Radiation Protection in Diagnostic and Interventional Radiology, 2005.
  • FOOD AND DRUG ADMINISTRATION (FDA), “Resource Manual For Compliance Test Parameters of Diagnostic X-Ray Systems”, Diagnostic Devices Branch, Division of Enforcement I, Office of Compliance, Rockville, Maryland, 1999.Guarrini, F. D., “Routine X-Ray Equipment, Tube and Generator, Film and Screen Quality Controls”, Second School In Radiophysics (Diagnostic Radiology), SMR.896-30, International Centre For Theoretical Physics (ICFTP), Italia, 1995.
  • http://qualitycontrol3.weebly.com/light-field.html

Baca Selengkapnya...

Thursday, December 29, 2016

UPAYA MEMINIMALKAN NETRON PADA PINTU RUANG LINAC 10 MV

PENDAHULUAN

 Setelah kita mengetahui bahwa Linac 10 MV sudah memunculkan netron dengan dilihat dari segi desain Linac, dari data vendor Linac yang sudah mengeluarkan nilai kuat sumber netron (Qn) pada 10 MV, dan pada rekomendasi NCRP 151 juga diberikan cara menghitung netron pada ruang utama, pada labirin dan pada pintu. Selanjutnya yang dibutuhkan adalah upaya untuk meminimalkan kehadiran netron pada Linac 10 MV.

Pada saat melakukan pengukuran paparan radiasi di pintu Linac, silakan diperhatikan hasil pengukurannya. Lakukan beberapa kondisi pengukuran, yaitu dengan fantom dan tanpa fantom atau kolimator dibuka penuh dan kolimator ditutup. Kemudian bandingkan hasilnya. Jika hasil dosis ekivalen foton yang terukur di luar pintu mengalami sedikit perubahan (dengan kecenderungan stabil) dengan berbagai kondisi pengukuran ketika kolimasi yang awalnya terbuka maksimum kemudian ditutup atau ketika fantom penghambur dipindah dari berkas utama. Maka, kejadian tersebut menunjukkan bahwa radiasi yang berkontribusi untuk desain pintu didominasi oleh fotonetron dan foton gamma hasil tangkapan netron. Sehingga untuk mendesain pintu ruang radiasi Linac tersebut harus mempertimbangkan kedua komponen itu.

Sebagaimana diketahui bahwa netron pada Linac 10 MV ini memberikan pengaruh yang signifikan terhadap disain labirin (maze) dan pintu. Nilai dosis ekivalen dari fotonetron dan gamma hasil tangkapan netron sangat dipengaruhi oleh ukuran utama ruang Linac, ukuran bukaan labirin, lebar dan panjang lorong labirin, dan jumlah belokan (bend) labirin.

UPAYA MEMINIMALKAN NETRON

Perhitungan netron pada Linac 10 MV membutuhkan data yang tidak mudah, terutama data Qn kuat sumber netron ataupun Ho dosis netron pada isosenter. Namun ternyata, nilai-nilai itu sudah mulai diperoleh pada NCRP 151 dan literatur lain yang memberikan updating data terkait Qn dan Ho.

Berikut ini adalah beberapa persamaan yang digunakan untuk menghitung besarnya netron dan foton hasil tangkapan netron denga materi dinding ruang Linac:



Dari beberapa persamaan di atas, dapat diketahui parameter yang mempengaruhi besarnya netron yaitu jarak d1, jarak d2, luasan ruang radiasi Sr, lebar labirin awal (S0), dan lebar lorong labirin (S1).



Telah dilakukan perhitungan dengan memvariasikan panjang d1 kemudian dilihat perubahan nilai dosis ekivalen netron (Hn) dan foton hasil tangkapan netron (Hcg). Perubahan yang diperoleh dapat dilihat pada Tabel berikut ini.



Pada Tabel 1 diketahui bahwa semakin panjang jarak d1 atau jarak dari isosenter ke titik tengah labirin diperoleh nilai Hcg dan Hn semakin berkurang. Perubahan nilai Hcg dan Hn (pada Gambar 2) mulai agak stabil setelah jarak d1 mencapai 7 meter. Meskipun pada panjang 5 meter sudah menunjukkan tanda-tanda kestabilan. Sehingga dapat diambil simpulan bahwa panjang d1 untuk desain ruang Linac 10 MV adalah 7 meter.



Pada Tabel 2 dapat diketahui bahwa semakin panjang jarak d2 atau lorong labirin maka nilai Hcg dan Hn semakin berkurang. Perubahan nilai Hcg dan Hn (pada Gambar 3) mulai agak stabil setelah jarak d2 mencapai 7 meter. Sehingga dapat diambil simpulan bahwa panjang d2 untuk desain ruang Linac 10 MV adalah 7 meter.



Pada Tabel 3 diperoleh informasi bahwa lebar labirin memiliki signifikansi dengan dosis Hn. Semakin lebar bukaan dan lorong labirin maka semakin besar dosis Hn. Sesuai dengan hasil pada Tabel 3 tersebut, lebar labirin direkomendasikan maksimal 2 meter.

Selain itu, ada faktor lain yang mempengaruhi besarnya netron di labirin dan pintu yaitu desain labirin dengan 1 belokan (bend) atau lebih. Pada desain labirin yang konvensional, umumnya memiliki satu belokan (bend). Sedangkan untuk meminimalkan adanya fotonetron dan foton gamma hasil tangkapan netron, direkomendasikan menambah lekukan/belokan labirin (Gambar 4).

Hal ini dapat ditemukan pada buku Patton H. MicGinley (2002) dan NCRP Report No. 151 (2005) bahwa dengan menambah belokan labirin maka dosis netron akan berkurang dengan faktor 3 (tiga). Sehingga persamaan Hn dimodifikasi menjadi:



Dengan nilai d2 adalah jumlahan dari panjang d2 + d3 atau panjang titik A – C –D atau A – B’ – C atau A – B – C (pada Gambar 4).



Dengan mendesain labirin memiliki lebih dari 1 belokan merupakan upaya paling signifikan mengurangi dosis netron hingga 1/3 sehingga kemungkinan terdeteksinya netron menjadi kecil atau bahkan tidak terdeteksi lagi. Hal ini sangat berguna untuk mengantisipasi perlunya penahan radiasi netron yang belum umum digunakan di Indonesia, seperti BPE.

KESIMPULAN

Ada beberapa upaya untuk mengurangi dosis netron pada pintu ruang Linac 10 MV, yaitu:

  1. Mendesain jarak antara target ke bagian tengah labirin titik A (d1) minimal 7 meter
  2. Mendesain panjang labirin dari titik tengah A ke pintu (d2) minimal 7 meter
  3. Lebar lorong labirin maksimal 2 meter dengan ketinggian lorong standar
  4. Mendesain labirin lebih dari 1 belokan (bend)


Upaya nomor 1, 2, dan 3 di atas masih memungkinkan adanya netron yang terdeteksi pada pintu sehingga perlu desain penahan netron, tetapi dengan ditambah upaya nomor 4, diperkirakan netron sudah tidak terdeteksi lagi sehingga pintu tidak perlu penahan netron.

PUSTAKA

- Patton H. MicGinley (2002)
- NCRP Report No. 151 (2005)

Baca Selengkapnya...

Wednesday, December 28, 2016

METODE PERHITUNGAN NETRON PADA PINTU RUANG LINAC 10 MV

PENDAHULUAN

Pada bagian sebelumnya telah dideskripsikan penyebab munculnya netron pada Linac 10 MV. Selanjutnya, pada bagian ini akan diurai mengenai metode kalkulasi besarnya netron dan gamma hasil tangkapan netron terutama pada perhitungan pintu dan labirin (maze).

Kenapa pertimbangan desain ditujukan pada labirin dan pintu? Pada dokumen NCRP 151 disebutkan bahwa jika bahan yang digunakan untuk penahan primer adalah beton (baik beton biasa ataupun beton berat), maka penahan primer tersebut memadai untuk menyerap seluruh fotonetron dan foton gamma hasil tangkapan netron sehingga tidak diperlukan tambahan penahan.

Hal ini disebabkan kandungan hidrogen relatif tinggi pada beton sehingga menghasilkan tampang lintang serapan netron tinggi. Oleh karena penahan primer sudah memadai sebagai penahan netron maka yang berpotensi perlu pertimbangan desain karena kehadiran netron adalah penahan sekunder, khususnya pada desain labirin (maze) dan pintu ruang Linac.

KALKULASI FOTONETRON DAN FOTON GAMMA HASIL TANGKAPAN NETRON

Sesuai rekomendasi NCRP 151 (2005), kalkulasi pintu ruang Linac untuk energi rendah < 10 MV harus memperhatikan beberapa faktor yang memberikan kontribusi radiasi ke pintu atau labirin (Gambar 1), yaitu :
  1. Hs yaitu dosis ekivalen per minggu dari radiasi hambur dinding;
  2. HLS yaitu dosis ekivalen per minggu dari radiasi bocor di ruang radiasi;
  3. Hps yaitu dosis ekivalen per minggu dari radiasi hambur pasien; dan
  4. HLT yaitu dosis ekivalen per minggu dari radiasi bocor yang menembus labirin.


Pada Gambar 1, dapat diketahui bahwa radiasi yang mencapai pintu labirin berasal dari hamburan berkas primer yang ke permukaan dinding penahan, radiasi hambur dari pasien, dan radiasi bocor dari kepala tabung sebagaimana komponen a – d di atas.



Pada Linac yang dioperasikan pada energi 10 MV, selain mempertimbangkan 4 (empat) faktor di atas, juga harus mempertimbangkan faktor fotonetron dan gamma hasil tangkapan netron. Kalkulasi untuk penahan radiasi pada pintu secara konvensional mengikuti persamaan berikut :

HG = f.Hs + HLS + HPS + HLT


Kemudian, karena adanya kontribusi netron, maka persamaan tersebut dimodifikasi menjadi :

Htot = HG + Hcg + Hn


Dengan Hn adalah dosis ekivalen netron pada pintu, dan Hcg adalah dosis ekivalen foton gamma hasil tangkapan netron.



Nilai Hn dan Hcg dikalkulasi dengan beberapa persamaan berikut:







Qn = kuat sumber netron pada isosenter (sesuai NCRP 151, varian atau elekta 10 MV = 0,06 x 1012 n/Gy dan siemens 0,02 x 1012 n/Gy). Nilai Qn juga dapat menggunakan nilai pada Tabel 1 di atas.
d1 = jarak dari isosenter ke tengah labirin (meter)
β = transmisi netron dari kepala linac = 1 untuk housing dari timah hitam (Pb)
Sr adalah luasan permukaan ruang Linac dengan tinggi rata-rata (t), Panjang rata-rata (p), lebar rata-rata (l).



K = rasio foton gamma hasil tangkapan netron – fluens netron total = 6,9 x 10-16 Sv/m2 (NCRP 151)
ΦA = fluens netron
d2=jarak dari titik tengah labirin pertemuan dengan d1 ke pintu
TVD (Tenth Value Distance) untuk foton 10 MV = 3 meter, sedangkan 5,4 meter untuk foton 18-25 MV, dan 3,9 untuk 15 MV.
hφ adalah fluens netron pada titik A sebagaimana Gambar 2, kemudian di kalikan dengan beban kerja radiasi bocor (WL) (jika ada) atau beban kerja total (Wtot) sehingga menjadi dosis ekivalen mingguan pada pintu karena foton gamma hasil tangkapan netron, Hcg (Sv/minggu) :



Selanjutnya mengkalkulasi dosis ekivalen netron sepanjang labirin (Hn,D) sebagai berikut:



TVD untuk labirin,


Dengan nilai S0 adalah luasan labirin 0 (lebar masuk labirin x tinggi ruang), dan S1 adalah luasan labirin 1 (lebar lorong labirin x tinggi ruang) sebagaimana Gambar 2.

Nilai Hn,D selanjutnya dikalikan dengan beban kerja radiasi bocor atau total menjadi dosis ekivalen fotonetron mingguan (Hn):



Dosis ekivalen total mingguan di luar pintu masuk labirin (Htot) dihitung dengan menjumlahkan semua komponen dosis dari radiasi hambur dan bocor, foton gamma hasil tangkapan netron, dan netron sebagaimana persamaan berikut:

Htot = HG + Hcg + Hn


Jika pintu Linac didesain menggunakan bahan Pb dan bahan penyerap netron, maka untuk menghitung Pb yang dibutuhkan diperlukan persamaan :

n(Htot - Hn) = - log (P/(Htot - Hn))


Selanjutnya, nilai P adalah nilai shielding design goal atau nilai pembatas dosis tahap desain.

Tebal Pb untuk Htot - Hn adalah n x TVL Pb, dengan TVL Pb = 6,1 cm.

Dengan asumsi, penahan radiasi netron mempertimbangkan fotonetron dan foton gamma hasil tangkapan netron, yaitu ~ 70% untuk foton gamma dan ~ 30% untuk fotonetron atau tergantung hasil perhitungan nantinya, maka:



TVL untuk BPE (Borated Polyethylene) = 45 mm.



Konstruksi pintu biasanya menggunakan lapisan BPE, timbal, dan baja dengan urutan BPE ada dilapisan dalam, kemudian baru lapisan Pb dan selanjutnya dibungkus dengan lapisan baja (steel). Perhitungan ini mengabaikan keberadaan baja sebagai bahan pelapis pintu, sehingga ketebalan pintu total adalah tebal BPE + tebal Pb.

Pustaka

  1. NCRP 151 Tahun 2005
  2. Shielding Design Methods for Radiation Oncology Departments, Melissa C. Martin, ACMP 25th Annual Meeting, 2008


Baca Selengkapnya...

Monday, December 26, 2016

Fenomena Netron Pada Linac 10 MV

PENDAHULUAN
Sejak tahun lalu, sering terdengar bahwa Linac medis yang digunakan di Indonesia memberikan kontribusi munculnya netron di ruang radiasi, di pintu dan bahkan di ruang operator. Hal tersebut karena adanya penelitian yang dilakukan oleh para peneliti di beberapa senter Linac di Indonesia.

Meskipun belum dirilis secara resmi hasil penelitian tersebut, namun gemanya sudah membahana sampai didengar oleh BAPETEN. Sehingga BAPETEN menindaklanjuti adanya informasi keberadaan netron di Linac 10 MV dengan melakukan pengukuran secara langsung saat verifikasi perizinan.

Hasilnya, terukur netron pada Linac 10 MV. Hal ini yang beberapa waktu lalu ramai di diskusikan oleh teman-teman di RS yang mengalami pengukuran netron di fasilitas Linac-nya. Seakan mereka tidak percaya adanya netron.

Pada kesempatan ini akan diulas mengenai keberadaan netron pada Linac 10 MV, benar atau dusta? Kalau benar, seberapa signifikan kontribusinya?

DESAIN LINAC 10 MV

Sesuai dengan Tabel 1 berikut, jika Linac dioperasikan pada energi di atas 8 MV untuk mode elektron atau pun foton maka netron akan dihasilkan dari reaksi keduanya. Tampang lintang munculnya fotonetron berkisar 100 sampai dengan 200 kali lebih besar dari pada untuk menghasilkan elektronetron. Fotonetron dihasilkan dari interaksi foton dengan bahan yang memiliki nilai Z besar. Energi foton harus lebih besar dari energi Giant Dipole Resonance (GDR).

Oleh sebab itu dapat dipahami bahwa Linac yang dioperasikan pada energi 10 MV menghasilkan elektronetron dan fotonetron. Dari keduanya, yang paling dominan adalah fotonetron. Bahan-bahan pada tabel berikut ini merupakan bahan utama penyusun Linac untuk target, kolimator primer, flattening filter, kolimator sekunder, kolimator multileaf, dan bahan head.



Pada Gambar 1 berikut ini dapat diketahui bahwa desain umum sistem Linac terbagi menjadi 2 (dua) bagian yaitu bagian pemercepat elektron dan bagian foton yang dihasilkan dari elektron yang menumbuk target. Netron dapat dihasilkan oleh Linac pada kedua bagian tersebut.

Elektron dengan yang dipercepat dengan energi tinggi (orde MeV) menabrak target dapat memunculkan reaksi (e,e’n) selain (e,γ). Pada saat foton (orde MV) dihasilkan dari elektron yang menumbuk target kemudian terkena pada kolimator primer, filter perata (flattening filter), kolimator sekunder (jaws), kolimator multileaf (MLC), bahan head linac maka dapat menghasilkan netron dari reaksi (γ,n). Selain pada bagan Linac, netron juga dapat dihasilkan dari reaksi foton dengan bahan penahan radiasi di ruang radiasi.



Oleh karena itu dapat dipahami bahwa pada desain Linac 10 MV sudah dapat diidentifikasi adanya potensi dihasilkannya netron, sehingga pada tahapan desain modalitas Linac ada persyaratan radiasi bocor untuk netron selain radiasi bocor untuk foton. Batasan radiasi bocor karena netron tidak boleh melebihi 0,2% dari besarnya dosis pada isosenter dan besarnya radiasi bocor karena foton tidak boleh lebih dari 0,1% dari besarnya dosis pada isosenter.

Keberadaan fotonetron secara bersamaan juga memunculkan adanya gamma hasil tangkapan netron di dalam ruang radiasi, karena netron yang lepas berinteraksi dengan inti suatu materi dan memancarkan gamma untuk mencapai kestabilannya. Materi-materi atau bahan-bahan yang berinteraksi sehingga memunculkan (n,γ) adalah yang memiliki nilai Z kecil. Materi dengan nilai Z kecil dapat ditemukan disekitar ruang Linac seperti material utama penyusun beton yaitu H, Si, dan Ca. Namun, pada sisi lain, materi dengan nilai Z kecil memiliki fungsi sebagai moderator untuk netron cepat dan mereduksi netron termal.

Netron yang dihasilkan dari proses fotonetron memiliki potensi sebagai netron cepat dan netron termal. Kedua netron tersebut dapat menghasilkan gamma tangkapan netron dengan energi tinggi, terutama netron cepat untuk berubah menjadi netron termal. Kehadiran gamma tangkapan netron dapat mempengaruhi tebal dinding ruangan dan jika ada labirin maka akan mempengaruhi panjang labirin dan desain pintu.

Energi dari gamma tangkapan netron yang terukur di labirin berkisar antara 2 – 8 MeV. Hasil penelitian menunjukkan bahwa labirin yang dilapisi dengan polietilen borat setebal 2 inchi dapat menyerap netron dan menghasilkan gamma tangkapan netron dengan energi yang rendah yaitu sekitar 0,4 MeV.

Selain dari faktor desain Linac yang sudah berpotensi memunculkan adanya netron, juga didukung adanya data dari NCRP 151 (2005) yang memberikan nilai Qn (kuat netron pada isosenter) untuk beberapa merk Linac 10 MV. Nilai Qn tersebut dapat dilihat pada Tabel di bawah ini. Khusus pada elekta, nilai kuat netron diperoleh dari ekstrapolasi dari data yang ada pada NCRP 151.



Sesuai dengan NCRP 151, dari hasil hasil pengukuran menyatakan bahwa pada energi nominal 10 MV memiliki tegangan percepatan efektif sebesar 11,6 MV. Sehingga sangat penting untuk memastikan bahwa berkas nominal 10 MV pada kenyataannya tidak lebih dekat ke berkas 12 MV karena konfigurasi Linac.

Data nilai Qn dan Ho dari NCRP 151 (2005) merupakan data dari mesin Linac lama sedangkan data dari Linac baru terkait nilai Qn dan Ho dapat dilihat pada Tabel 3 berikut ini. Nilai Ho merupakan dosis ekivalen netron pada isosenter (pada jarak 1,41 meter untuk data dari NCRP 151, dan pada jarak 1 meter dari target untuk data baru pada Tabel 3).



Sebagaimana diketahui bahwa fotonetron dan gamma hasil tangkapan netron dapat dijumpai pada labirin maka mengakibatkan desain pintu ruang Linac juga harus mempertimbangkan keduanya. Jika tidak diakomodasi dalam mendesain pintu maka akan terjadi paparan netron dan gamma hasil tangkapan netron yang berlebih di sekitar pintu ruang Linac.

KESIMPULAN

Sesuai dengan informasi di atas, dapat diketahui bahwa:
  1. Linac 10 MV secara disain dapat memunculkan netron jika dioperasikan minimal pada energi 8 MV.
  2. Sebagian besar Linac mulai beralih ke penggunaan energi tinggi dalam melakukan terapi ke pasien. Semula sering menggunakan energi 6 MV, sekarang bergeser ke 10 MV untuk penggunaan rutin. Sehingga diperlukan kalkulasi ulang desain ruang radioterapi khususnya labirin (maze) dan pintu.


PUSTAKA

  1. Vega-Carrillo, H.R., dkk., “Photon and photoneutron spectra produced in radiotherapy LINACs”, XII International Symposium/XXII National Congress on Solid State Dosimetry, Mexico City, September 5th to 9th, 2011.
  2. S Yani et al.,”Neutron contamination of Varian Clinac iX 10 MV photon beam using Monte Carlo simulation”, 13th South-East Asian Congress of Medical Physics 2015 (SEACOMP), IOP Publishing, Journal of Physics: Conference Series 694, 2016
  3. Varian, “Specification Clinac iX Accelerator”, Varian Medical Systems, 2014.
  4. J.M. Kebwaro et al., “Investigation of photoneutron and capture gamma-ray production in Pb and W under irradiation from 16N decay radiation”, Nuclear Instruments and Methods in Physics Research B 358, 32–37, 2015.
  5. National Council on Radiation Protection and Measurements (NCRP), “Structural Shielding Design and Evaluation For Megavoltage X- and Gamma-Ray Radiotherapy Facilities”, NCRP Report No. 151, 2005.
  6. https://www.eeweb.com/electronics-quiz/radiotherapy/, diakses 20 Desember 2016
  7. Hosein Ghiasi & Asghar Mesbahi, “A new analytical formula for neutron capture gamma dose calculations in double-bend mazes in radiation therapy”, reports of practical oncology and radiotherapy 1 7, 220–225, 2012.


Baca Selengkapnya...

Perhitungan Penahan Radiasi pada Kedokteran Nuklir

Pendahuluan
Tulisan ini diinspirasi oleh adanya workshop yang telah diikuti terkait latihan perhitungan penahan radiasi untuk kedokteran nuklir. Selain itu juga untuk menjawab pertanyaan saudara Nandya Hanita terkait cara menghitung ketebalan timah hitam untuk Tc.

Sumber radioaktif Tc-99m dengan aktivitas 1 GBq jika ditempatkan pada vial yang tidak dilapisi penahan radiasi akan memberikan paparan radiasi eksternal sebesar 15 mikroSv/jam pada jarak 1 meter dari sumber. Nilai itulah yang sering disebut dengan kuat sumber (source strength) atau konstanta gamma (specific gamma constant) Tc-99m.


Contoh Kasus
Sebagai contoh kasus, hitunglah penahan radiasi yang memadai untuk 5 GB Tc-99m pada jarak 10 cm? dengan menggunakan persamaan inverse square law maka dapat diselesaikan contoh tersebut.


Paparan radiasi pada jarak 10 cm atau D dapat dihitung dengan persamaan di atas sehingga ketemu nilai 7500 mikroSv/jam.

Pertanyaan selanjutnya, bagaimana kalau vial tersebut dimasukkan kedalam kontainer timbal dengan ketebalan 2 mm? Berapa paparan radiasi pada jarak 0,5 meter?

Persamaan di atas dimodifikasi menjadi :


Dengan nilai B adalah faktor transmisi penahan radiasi. korelasi nilai B dengan tebal penahan radiasi adalah:

n= - log B dan tebal penahan radiasi (t) = n x TVL

TVL adalah Tenth Value Layer dari bahan penahan radiasi. untuk sumber radioaktif Tc-99m, TVL timbal adalah 1 mm dan TVL baja (steel) adalah 19 mm.
Sehingga solusi dari kasus diatas adalah:


selanjutnya,


Paparan radiasi pada jarak 50 cm dari kontainer timbal dengan ketebalan 2 mm adalah 3 mikroSv/jam.

Pada kedokteran nuklir, praktek perlakuan radionuklida itu ada pada lemari asam yang dilapisi dengan timbal. Jika disain lemari asam sebagaimana gambar berikut dengan tebal timbal 4 mm pada lemari asam, hitunglah dosis yang diterima oleh pekerja yang melakukan elusi selama 1 bulan kerja. Asumsi: 1 bulan = 20 hari, 1 hari = 8 jam kerja.


Dengan ketebalan timbal 4 mm (t = 4 mm) maka diperoleh nilai B sebesar 0,0001 sehingga nilai laju dosis yang diterima pekerja radiasi adalah:

D = 0,0001 x 7500 mikroSv/jam x (10/30)2 = 0,083 mikroSv/jam


Apabila pekerja radiasi kerja dalam waktu 1 bulan = 160 jam, maka dosis yang diterima oleh pekerja radiasi adalah:

D = 0,083 mikroSv/jam x 160 jam = 13,3 mikroSv.


Perhitungan di atas jika hanya menggunakan 1 sumber Tc-99m dengan aktivitas 5 GBq. Pertanyaan selanjutnya,
  1. bagaimana jika menggunakan beberapa sumber Tc-99m?
  2. apakah penahan radiasinya sudah sesuai atau perlu penyesuaian kembali?
  3. Kemudian bagaimana kalau selain pakai Tc-99m juga menggunakan sumber Iodine. Pada 1 kemasan iodine berisi campuran I-131, I-132, I-133, dan I-135. Sehingga perlu proses pemisahan dan lainnya untuk memperoleh I-131 saja.



Silakan dihitung berapa ketebalan timbal pada hotlab jika pekerja radiasi maksimum memperoleh dosis 0,2 mSv/minggu pada jarak 50 cm. Dengan beban kerja 40 jam/minggu, faktor orientasi berkas ke segala arah (U) = 1, factor okupansi (T) 4 jam per 8 jam per hari sehingga T = 0,5.

Jawab:


Dengan menggunakan persamaan tersebut dengan modifikasi factor beban kerja dan lainnya menjadi :

n = -log(B) dan t = n x TVL



Jika nilai tebal penahan radiasi (𝑡) antar radionuklida memiliki perbedaan kurang dari 1 TVL maka tebal penahan yang dipilih adalah tebal yang paling besar ditambah dengan 1 HVL.

Jika nilai tebal penahan radiasi (t) antar radionuklida memiliki memiliki perbedaan sebesar 1 TVL atau lebih, maka ketebalan penahan = nilai tebal penahan yang paling besar.


Pada tabel di atas ada 2 radionuklida yang mempengaruhi ketebalan penahan radiasi yaitu I-132 dan I-135, dari keduanya diperoleh selisih ketebalan penahan radiasi sebesar 27,08 mm masih kurang dari 1 TVL sehingga ketebalan penahan yang terbesar harus ditambah dengan 1 HVL, yaitu:

t_total = 228,64 + (0,301 x 45) = 242,2 mm Pb

tebal hotlab adalah 242,2 mmPb


selanjutnya, akan muncul pertanyaan lagi.
Berapa ketebalan tembok atau dinding beton (TVL = 20,5 cm) ruang hotlab jika jarak terdekat tembok dengan hotlab adalah 2 meter. Jarak dari sumber ke luar hotlab 25 cm. Di luar tembok itu diperuntukkan untuk anggota masyarakat dengan maksimum dosisnya 0,01 mSv/minggu. Asumsi beban kerja 40 jam/minggu, factor okupansi 2 jam per 8 jam atau T = 0,25; dan U = 1.


Jawab:
Pada perhitungan sebelumnya, yang mempengaruhi perhitungan adalah I-135 sehingga perhitungan ini langsung menggunakan nilai-nilai pada I-135. Jarak dari sumber ke titik pengukuran adalah 25 cm + 200 cm + 30 cm (dari dinding luar) = 2,55 meter.


n= -log(5,2 x 10-1) = 0,28

t = 0,28 x 20,5 cm = 5,8 cm

sehingga diperoleh tebal beton 5,8 cm untuk daerah anggota masyarakat.

Referensi
  1. Perka BAPETEN No. 12 Tahun 2012
  2. NCRP 151 Tahun 2005
  3. http://researchcompliance.uc.edu/Libraries/Isotopes/Tc-99m.sflb.ashx
  4. Practical training on shielding calculations, bahan workshop “National Coordination Meeting on The Radiation Protection and Safe Management of Radiopharmaceutical Production”, IAEA dan BAPETEN, September 2016, Jakarta.


Baca Selengkapnya...

Sunday, August 7, 2016

PERTIMBANGAN KHUSUS DALAM DISAIN RUANG RADIOTERAPI

PENDAHULUAN

Disain ruang radiasi khususnya untuk modalitas dengan energi tinggi ber-orde MeV atau pun MV harus memiliki pertimbangan-pertimbangan tertentu yang harus diperhitungkan. Pada bagian sebelumnya telah diuraikan mengenai pertimbangan umum dalam disain ruang radioterapi.

Uraian ini akan melengkapi uraian sebelumnya, yaitu pertimbangan khusus dalam disain ruang radioterapi. Yang termasuk dalam pertimbangan khusus ini adalah:

  1. Radiasi Skyshine
  2. Radiasi Hambur Tepi (Side-Scattered Radiation)
  3. Radiasi Groundshine
  4. Aktivasi
  5. Produksi Ozon
  6. Tomoterapi
  7. Lengan Robot (Robotic Arm) Atau Cyberknife
  8. Radioterapi Intraoperatif
  9. Pesawat Cobalt
  10. Linac Dengan Flattening Filter Free (FFF)
  11. Gamma Knife
  12. Brakiterapi High Dose-Rate (HDR)
  13. Disain Umum Ruang Radioterapi
  14. Teknik Pengecoran
  15. Estetika


RADIASI SKYSHINE

Radiasi sekunder yang menembus atap ruang radiasi akan tersebar ke sekitar daerah di luar ruang radiasi karena interaksi dengan udara atmosfer. Radiasi ini biasanya terdeteksi sekitar jarak minimal 2 meter dari dinding luar ruang radiasi dengan ketinggian pengukuran 1 meter dari lantai dasar.

Situasi dan perhitungan radiasi foton skyshine dapat dilihat pada Gambar 1 dan persamaan berikut:



Situasi dan perhitungan radiasi netron skyshine dapat dilihat pada Gambar 2 dan persamaan berikut:



RADIASI HAMBUR TEPI (SIDE-SCATTERED RADIATION)

Jenis hamburan tepi ini adalah radiasi hambur dari atap bagian luar yang tegak lurus dengan arah berkas yang mengarah ke atas dengan menjauh dari sumbu berkas. Penting untuk menjadi perhatian dalam hal radiasi hambur tepi adalah gedung atau bangunan tinggi yang ada di samping atau berdekatan dengan ruang radioterapi.



RADIASI GROUNDSHINE

Radiasi sekunder yang keluar dari celah pintu bagian bawah memiliki kemungkinan terjadi jika pintu didisain tipis. Radiasi groundshine dapat dicegah dengan menambah bahan metal seperti Pb ataupun baja pada lantai dari batas pintu sampai > 10 cm ke dalam.


AKTIVASI

Pertimbangan adanya aktivasi dari netron terhadap bahan atau peralatan di ruang radioterapi dilakukan untuk jenis pesawat Linac dengan energi > 10 MV. Meskipun begitu, pada Linac dengan energi sampai 10 MV dan pada penggunaannya sering menggunakan energi 10 MV maka perlu dipertimbangkan kehadiran netron di ruang terapi maupun di ruang operator.

Selain itu, untuk menghindari potensi aktivasi maka pada penggunaan IMRT harus pada energi rendah (misal: 6MV), dan tidak ada bahan aluminium di dalam ruang radiasi.

PRODUKSI OZON

Produksi ozon berpotensi terjadi jika penyinaran dengan menggunakan berkas elektron berinteraksi dengan oksigen di ruang radiasi. Konsentrasi ozon dalam ruang radiasi tidak boleh lebih dari 0,1 ppm.

Jika diperkirakan penggunaan berkas elektron lebih banyak dibanding dengan berkas foton atau bahkan hanya menggunakan berkas elektron saja maka sirkulasi udara diruang radiasi harus diatur dengan laju pertukaran udara minimal 3 kali per jam.

TOMOTERAPI

Salah satu kemajuan teknologi terapi saat ini adalah tomoterapi, yaitu menyatukan sistem CT dengan IMRT. Pada sistem CT, berkas yang digunakan adalah berkas tipis, bukan berkas lebar seperti radioterapi konvensional. Penggunaan berkas tipis akan mengakibatkan lebar dinding primer menjadi lebih kecil sampai 10 kali lipat namun tebal dinding primer menjadi lebih tebal sampai 1 TVL.

Selain itu, disain ruang juga harus menggunakan pertimbangan IMRT, yaitu potensi radiasi bocor lebih dominan dibanding dengan radiasi hambur. Radiasi bocor dapat meningkat sampai 2 TVL dibanding dengan radioterapi konvensional. Akibatnya, dinding primer menjadi lebih tebal 1 TVL dan dinding sekunder 2 TVL.

Peningkatan tebal dinding dapat diantisipasi dengan mengurangi radiasi bocor dari kepala akselerator minimal 1 TVL dan disediakan beamstopper yang ekivalen dengan 2 – 3 TVL. Penting untuk diperhatikan bahwa pada sistem CT, biasanya sudah disediakan proteksi internal pada selubung CT dan mengakibatkan dinding radiasi di disain dengan dinding sekunder.

LENGAN ROBOT (ROBOTIC ARM) ATAU CYBERKNIFE

Sistem SRS biasanya memiliki sumber dalam bentuk lengan robot, sehingga mengakibatkan seluruh dinding ruang radiasi didisain dengan dinding primer.

Pergerakan lengan robot dibatasi tidak dapat digerakkan ke bawah meja pasien, sehingga disain dinding untuk atap dapat diminimalkan.

RADIOTERAPI INTRAOPERATIF

Linac dengan berkas elektron atau foton energi rendah yang digunakan untuk terapi yang dipadukan dengan tindakan operasi bedah. Radioterapi intraoperatif ini dapat berbentuk terpasang tetap atau juga mobile yang dilengkapi dengan beamstopper.

Mayoritas dioperasikan pada moda elektron dengan kuat arus yang rendah, sehingga menghasilkan radiasi bocor kecil. Penggunaan energi foton rendah untuk menghilangkan produksi netron.

Tiap kondisi pesawat radioterapi intraoperatif tersebut perlu evaluasi dengan hati-hati untuk memverifikasi bahwa alat dapat digunakan pada kondisi yang tepat.

Disain penahan radiasi bergantung pada detil pengukuran radiasi saat pengoperasian alat dalam lingkungan kerja yang sebenarnya.

PESAWAT COBALT

Secara umum disain untuk pesawat Cobalt sama dengan Linac, namun ada beberapa hal yang berbeda diantaranya adalah jarak sumber ke isocenter dan keberadaan beamstopper.

Penentuan beban kerja untuk pesawat Cobalt direkomendasikan menggunakan perkiraan jumlah pasien per minggu, aktivitas sumber atau kuat sumber dan dosis serap per pasien. Namun, apabila tidak dapat ditentukan dari perkiraan tersebut maka dapat menggunakan perkiraan konservatif.

Jarak sumber ke isocenter biasanya 0,8 m, meskipun tersedia pesawat Cobalt dengan jarak sumber ke isocenter 1 m sehingga beban kerja (W) dihitung pada 80 cm.

Jika ada beamstopper, berkas utama yang ditransmisikan ke dinding tidak lebih dari 0,1 %. Disain ruang dapat mempertimbangkan ketersediaan beamstopper sehingga dapat mengurangi ketebalan dinding primer.

LINAC DENGAN FLATTENING FILTER FREE (FFF)

Kemajuan teknologi akan menghadirkan Linac dengan dengan Flattening Filter Free (FFF).

Flattening Filter (FF) sangat dibutuhkan untuk Linac konvensional namun tidak diperlukan untuk sistem IMRT dan SRS.

Berkas FFF digunakan hanya untuk penyinaran dengan ukuran luas lapangan yang kecil misalnya untuk tomoterapi dan cyberknife. Apabila berkas FFF digunakan untuk bidang penyinaran yang luas, maka keseragaman dosis dapat ditempuh dengan memodulasi radiasi dengan Multileaf Collimator (MLC).

Berkas FFF memiliki kualitas radiasi yang rendah dibandingkan dengan berkas FF, sehingga diperlukan MU yang besar sehingga laju dosisnya pun tinggi.

GAMMA KNIFE

Sistem SRS ini unik dalam disain ruangnya. Keunikan terletak pada sebaran dosis yang anisotropik. Berbeda dengan cyberknife yang sebaran dosisnya seragam sehingga dinding penahan disekilingnya dibuat sebagai dinding primer.

Disain gamma knife yang memiliki dinding penahan inheren mengelilingi sumber kecuali pada sisi depan saat “beam on” mengakibatkan radiasi hambur ke bagian depan saat (pintu sumber terbuka) menjadi perhatian untuk mendisain ruang radiasi.

Pilihan penempatan pintu atau akses pasien ke ruang radiasi dapat diposisikan pada bagian samping atau bagian belakang pesawat gamma knife.

Perhitungan beban kerja, mempertimbangkan radiasi bocor (WL), radiasi saat “beam on” (Won), dan radiasi saat pergerakan meja (Win-out):


Dengan nilai t1 = waktu kerja dalam jam per minggu (biasanya 40 jam/minggu), t2 = waktu yang dibutuhkan untuk penyinaran pasien per minggu (per pasien biasanya 30 menit), t3 = waktu yang dibutuhkan untuk pergerakan meja saat pintu sumber terbuka (biasanya 8 menit untuk tiap pasien, masuk 4 menit, keluar 4 menit).

BRAKITERAPI HIGH DOSE-RATE (HDR)

Terapi dengan teknik brakiterapi saat ini sebagian besar menggunakan sumber radioaktif Ir-192 dan Co-60.

Tipikal ruang radiasi sama dengan radioterapi lainnya, yang membedakan penggunaan faktor guna. Faktor guna untuk sistem brakiterapi adalah 1, sehingga seluruh dinding ruang radiasi didisain sebagai dinding primer.

Ruang radiasi dapat didisain memiliki labirin (maze) ataupun tidak memiliki labirin.

Beban kerja dihitung berdasarkan perkiraan jumlah pasien per minggu, per tahun, ataupun dalam waktu satu jam dan besarnya dosis yang diberikan untuk tiap pasien.

Misal: ada 25 pasien per minggu, dengan dosis per pasien adalah 10 Gy pada jarak 1 meter, maka total waktu terapi yang dibutuhkan per minggu (t) dengan laju dosis pada jaringan 1 cm dari sumber adalah:


Asumsi, laju dosis pada 1 cm adalah 1 Gy/menit untuk tipikal 10 Ci Ir-192.

Beban kerja dihitung dengan menggunakan persamaan: W= γ x f x A x t

dengan,  = faktor gamma Ir-192 = 0,48 R/Ci/jam pada 1 m, f = faktor konversi Ir-192 = 0,96 cGy/R, dan A = aktivitas sumber (Ci).

Radiasi bocor dari sumber pada posisi “off” didisain memiliki nilai kurang dari 0,1 mR/jam (1µSv/jam) sehingga dapat diabaikan untuk kebutuhan disain ruang brakiterapi.

DISAIN UMUM RUANG RADIOTERAPI

Parameter disain ini memberi panduan untuk ruang radioterapi yang dibangun sebelum mengetahui merk dan jenis pesawat Linac yang digunakan.

Parameter – parameter tersebut adalah:
  1. Ukuran lebar penahan primer (W) dapat dihitung dengan persamaan: W = (0,566 X + 0,6) meter dengan X jarak dari target ke dinding.
  2. Jarak isosenter ke dinding sekunder (untuk baseframe) minimal 3,85 meter.
  3. Lebar lorong masuk ke ruang radiasi (lorong labirin) minimal 2,15 meter.
  4. Lebar bukaan labirin ke ruang radiasi minimal 2,45 meter.
  5. Tinggi ruang radiasi 3 meter, dan
  6. Diameter orientasi berkas dan meja pasien 5,5 m dari isosenter.


Disain atap dapat dipertimbangkan dibuat multilayer untuk mengurangi beban pada atap (sebagaimana Gambar 6).

TEKNIK PENGECORAN

Pengecoran beton dilakukan untuk memastikan bahwa ketebalan dan densitas beton yang seragam terpenuhi.

Nilai densitas beton 2,35 g/cm3 tidak selalu mudah diperoleh, sehingga untuk memastikan densitas beton harus dilakukan verifikasi densitas untuk tiap truk adukan beton siap pakai (ready mix).

Pengecoran tidak dapat dilakukan dalam sekali tuang bahan beton, tetapi harus dijamin bahwa sekali tuang mampu membuat beton dengan ketinggian 0,3 – 0,5 meter.

Ketinggian pengecoran untuk tiap tahap tidak boleh sejajar dengan isosenter.

Penambahan atau penuangan adukan lanjutan pada cetakan dilakukan sebelum adukan beton mengeras.

Penambahan obat pengeras perlu dipertimbangkan karena akan mengakibatkan semen mengalami hidrasi (reaksi dengan larutan) dan menghasilkan panas. Panas tersebut dapat membuat terjadinya penyusutan dan retak.

ESTETIKA

Pada masa sekarang, dinding ruang radioterapi diberi dinding tambahan di depan dinding beton untuk memberi nilai estetika.

Pemasangan dinding tambahan sebagai estetika memudahkan dalam konstruksi beton, karena saluran dan lobang untuk pengkabelan dapat diminimalkan.

Dinding estetika tersebut dapat dibuat dari bahan kayu dan dapat digunakan untuk penempatan AC, listrik, laser dan lainnya.

Dinding estetika diusahakan tidak mengganggu pasien, personil, dan pergerakan peralatan.

PUSTAKA

  1. National Council on Radiation Protection and Measurements (NCRP), “Structural Shielding Design and Evaluation For Megavoltage X- and Gamma-Ray Radiotherapy Facilities”, NCRP Report No. 151, 2005.
  2. International Atomic Energy Agency (IAEA), “Radiation Protection in the Design of Radiotherapy Facilities”, Safety Reports Series (SRS) No. 47, 2006.
  3. McGinley, Patton H., “Shielding Techniques for Radiation Oncology Facilities”, Second Edition, Medical Physics Publishing, 2002.
  4. http://surgrob.blogspot.co.id (logo)

Baca Selengkapnya...